Dear Nazh……
Aku tahu surat ini tidak akan pernah sampai padamu. Aku tahu kau tak kan pernah membacanya dan mengerti apa yang saat ini sedang berkecambuk dalam hatiku. Bukan karena aku tak ingin kau tahu semua itu atau karena tak ingin mengirimnya untukmu.
Aku merindukanmu, Nazh…. Tapi aku tak tahu harus mengirimnya kemana ….. karena aku tak tahu dimana kamu sekarang. Tapi biarlah kuungkapkan semuanya malam ini biar semua tahu bahwa benar aku kehilanganmu dan betapa aku sangat mencintaimu.
Beberapa hari yang lalu masih sempat kudengar lembut suaramu meski hanya lewat telpon. Saat itu aku begitu bahagia mendengar cerita dan ocehanmu, tentang kerinduanmu padaku dan tentang keinginanmu untuk mengunjungiku hari Sabtu nanti. Tak tergambarkan betapa bahagianya aku apalagi sudah sekian minggu aku tidak bertemu denganmu.
Entahlah Nazh…..terkadang aku merasa engkau begitu jauh dariku padahal kita berada dalam satu kota. Aku seringkali berprasangka mungkin kau sudah melupakanku. Tapi cintaku kepadamulah yang selalu mmbuatku bertahan hingga tak terasa 1 tahun sudah hubungan kita
Suka duka dalam realita cinta telah banyak kualami sejak bersamamu, Nazh…kendati lebih banyak kepedihan yang kurasakan, tapi kuhargai semua itu sebagai pengorbananku kepadamu. Aku tidak pernah menyesal karena mencintaimu. Setidaknya dengan mengenalmu aku menemukan warna yang lain dalam kehidupanku. Aku yang selama ini dikenal sangat cuek dengan makhluk yang namanya cowok, aku yang dulunya tidak percaya dengan yang namanya “cinta”,akhirnya pun harus mengakui bahwa cinta milik semua orang dan sangatlah manusiawi bila seseorang ingin dicintai, dan itu ingin kudapatkan darimu.
Mengapa aku justru jatuh cinta padamu? Kau hanyalah sosok yang biasa saja, kau datang dengan kesederhanaanmu, kesederhanaan yang amat sangat sederhana yang kadang – kadang membuatku sakit hati. Terkadang aku berfikir apakah kau benar- benar mencintaiku ataukah aku hanya satu dari seribu cinta yang kau miliki ?
Seringkali aku mendengar cerita yang miring tentangmu yang selalu kau sanggah saat kutanya kebenarannya padamu. Katamu, hanya aku yang kau sayang tapi temanmu sendiri yang mengatakan gossip itu kepadaku. Mana yang harus kupercaya, Nazh….? Jujur, aku tak ingin mendengar semua itu, sampai akhirnya aku membuktikannya sendiri, kau pacaran dengan seseorang yang aku kenal. Duniaku seakan runtuh saat itu dan kulakukan hanya menangis,,,,menangis… dan menangis……….
Tapi sekali lagi cintakulah yang menang dalam peperangan hatiku antara melupakanmu atau mempertahankanmu.
Tolonglah…..aku ingin membencimu,aku ingin melupakanmu,melupakan semua yang pernah terjadi diantara kita…..tapi aku tak bisa.
Sekarang kau telah pergi, Nazh…..entah kemana…..aku tak tahu…..dan parahnya itu kutahu dari sahabat kita sendiri sehari setelah kepergianmu. Kenapa kau begitu tega Honey….?? Kenapa……??
Sore itu….mama bilang kamu datang kerumah mencariku. Aku bahagia,ternyata kau masih mengingatku. Kupendam hasratku tuk segera bertemu denganmu karena kau tlah berjanji akan datang hari Sabtu nanti. Tapi harapanku hanya tinggal harapan belaka. Tidak ada Sabtu yang romantis, tidak ada Sabtu yang bahagia sekalipun semestinya Sabtu itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku..
Kamis yang cerah….aku terbangun saat kudengar suara sahabat kita. Tak ada yang lain terlintas dibenakku saat itu selain dirimu. Dengan sumringah kutanyakan keadaanmu berharap aku akan mendapatkan berita seperti yang kuharapkan. Tapi apa yang kudapat……?? Suatu jawaban yang sungguh mebuatku kecewa dan patah hati.
“ dia telah pergi sejak kemarin ….” Ya Tuhan…..kalimat itu ….aku menyesal menanyakan keberadaanmu saat iu, Nazh….apalagi mungkin kau tak pernah kembali lagi. Berarti kedatanganmu kemarin itu adalah terakhir kalinya ? dan aku tidak sempat bertemu denganmu….. oh….aku menyesal, Nazh….menyesal sekali….
Tapi kamu bohong….kamu bilang akan menemuiku hari Sabtu nanti…..mengapa kau mengingkarinya …………………………..?
“Tidakkah kau merindukanku……?” masih kuigat sebait pertanyaan yang kau lontarkan padaku ditelp waktu itu. Amat sangat, Nazh…. Tiada hari yang kulalui tanpa merindukanmu.
“ Aku merindukanmu, Sayang…..” berdesir setiap pembuluh darahku saat kau ucapkan kata – kata itu. Benarkah…..aku tidak sabar menunggu Sabtu tiba…
Sabtu…..hari dimana semestinya kau datang dengan senyuman khasmu
Sabtu….hari bahagiaku, ulang tahunku,dan aku ingin membagi kebahagiaan itu bersamamu. Tapi kini…..aku kecewa….aku marah….aku menangis……ditengah hangar bingarnya suasana, aku merasa sendiri dan terpuruk dalam kesedihanku..
Ah…. Sabtu yang kelabu ……………… Ulang tahun yang kelabu.
Dear Nazh…..
Kamu masih ingat Dealova kan……
Dealova……lagu kenangan kita berdua……akankah berlalu begitu saja seperti angin tanpa bekas ?
Masihkah akan menjadi lagu kita bersama, Nazh….?
Akankah aku terlintas dalam fikiranmu ketika lagu ini bergema ?
Dealova…..biarlah menjadi kenangan abadi dalam hatiku. Biarlah alunannya yang begitu indah jadi pengiring kepergianmu yang tanpa pesan.
Sekalipun saat ini tak kuasa ku menahan airmataku yang terus saja berderai , tapi aku harus belajar untuk tegar….
Maafkan karena tak merelakanmu pergi,
Maafkan karena mencintaimu begitu dalam….
Mungkin aku memang harus melupakanmu.
Dealova masih terus mengalun,seakan berlomba dengan airmataku. Tapi dengan tulus aku berdoa,
“ Tuhan, lindungi dia! Sekalipun mungkin saat ini dia telah melupakanku. Tapi… Kalau boleh meminta, biarlah dia hanya untukku saja, biarlah dia mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.”
Ku harap kau bahagia dengan apa yang kau nikmati sekarang, Nazh…….
Dan izinkan aku berkata ‘ aku mencintaimu ‘ sekalipun mungkin kau tak mendengarnya.