Antologi Puisi Odecya Puisi

Ada setetes gairah
Mengganggu bergemuruh
Dari desiran pasir pantai
Tapi bagi dia semua itu samar
Padahal raga tak bersua
Ini tak menyusun melodi
Lalu desah meraja
Sudahlah aku reda
Biar meredam saja
Dimana aku dulu
Biar rasa tak begini
Merendahkan hati di bukit palsu
Berhias dan merayu
Masih ada jawaban
Sedangkan kata membisu
Hanya jiwa yang resah
Lalu untuk apa seandainya
Bukankah dunia nyata

by.Midea

Posted under: Umum

Saat mentari sirna
dalam pelukan seekor bidadari
Hati teriris duka
menanti sang rembulan penuhi janji

Bagai punguk merindukan bulan
terkurung beku diruang bisu
hanya diam mulut bersumpah
tubuh kaku beku termakan rindu

hancur
sirna
basi
mati

untuk seekor bidadari terkurung sepi.

Posted under: AnggrekBiru, Umum

Pijak kaki kaku di pantai
Jejak basi bisu ditelan ombak
Sang banyu perlahan berontak
Hentak kaki melangkah santai

Langit merah merekah padam
Sang surya jauh ditelan samudera
Sejauh pandang menjelang malam
Diam kaku tak bersuara

Diujung horison mengucap janji
santun kata merangkai puji
mulut bersumpah memohon do’a
do’a sang insan penikmat dunia

Jejak kaki kaku ditelan ombak
di ujung horison sang surya padam
Wahai sang Pencipta Alam
bawalah langkahku tanpa jejak

di ujung horison sang surya padam.

d@nzelismed.

Posted under: AnggrekBiru, Umum

pikirku terbang bersama duka
tangisku bernyanyi bersama luka
mimpiku punah bersama angan
asaku mati bersama kenangan

tarian jemari bernyanyi pantun
lidah berdarah tergores santun
hati meringis menangisi luka
mulut bersumpah memohon do’a

@danze, ruang bisu

Posted under: AnggrekBiru, Umum

Untuk seekor bidadari

bidadari,
kau hinggap di dahanku
dahan penuh kesombongan dan tipuan
kepalsuan dan kemunafikan
berharap secercik cintaku

bidadariku,
jangan kau rusak akar cintaku
dengan luka sayap patahmu
aku hanya ingin cintamu
bukan cerita lukamu.

Posted under: AnggrekBiru, Umum
« Previous Page  Next Page »